Senin, 07 Mei 2012

Askep Pielonefritis


BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI
1.      ANATOMI
2.      FISIOLOGI
Ginjal
Fungsi vital ginjal ialah sekresi air kemih dan pengeluarannya dari tubuh manusia. Di samping itu, ginjal juga merupakan salah satu dari mekanisme terpenting homeostasis. Ginjal berperan penting dalam pengeluaran zat-zat toksin/racun, memperlakukan suasana keseimbangan air. mempertahankan keseimbangan asam-basa cairan tubuh, dan mempertahankan keseimbang­an garam-garam dan zat-zat lain dalam darah.
Ureter
Air kemih disekresi oleh ginjal, dialirkan ke vesika urinairia (kandung kemih) melalui ureter. Ureter berada pada kiri dan kanan kolumna vertebralis (tulang punggung) yang menghubungkan pelvis renalis dengan kandung kemih.

Vesika urinaria
Aliran urine dari ginjal akan bermuara ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Kandung kemih merupakan kantong yang dapat menggelembung seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis, di dalam rongga panggul. Bila terisi penuh, kandung kemih dapat terlihat sebagian ke luar dari rongga panggul.
Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih ke luar dan juga untuk menyalurkan semen. Pada laki-laki, uretra berjalan berkelok-kelok, menembus prostat, kemudian melewati tulang pubis, selanjutnya menuju ke penis. Oleh karera itu, pada laki-laki, uretra terbagi menjadi 3 bagian, yaitu pars proetalika, pars membranosa, dan pars kavernosa. Muara uretra ke arah dunia luar disebut meatus. Pada perempuan, uretra terletak di belakang simfisis pubis, berjalan miring, sedikit ke atas, panjangnya kurang lebih 3-4 cm. Muara uretra pada perempuan terletak di sebelah atas vagina, antara klitoris dan vagina. Uretra perempuan berfungsi sebagai saluran ekskretori.










BAB III
KONSEP PENYAKIT
1.  DEFINISI
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis.
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436).
Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd aliran ureterik.
(J. C. E. Underwood, 2002: 668)
      Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringan interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% - 25% curah jantung, bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah.

2.      ETIOLOGI

a.       Bakteri (Escherichia coli, Klebsielle pneumoniac, Streptococus fecalis, dll). Escherichia coli merupakan penyebab 90% dari infeksi
b.      Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih
c.        Obstruksi urinari track. Misal batu ginjal atau pembesaran prostat
d.       Refluks, yang mana merupakan arus balik air kemih dari kandung kemih kembali ke dalam ureter.
e.        Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.
f.       Kencing Manis
g.      Keadaan-keadaan menurunnya imunitas untuk melawan  infeksi.

3. TANDA DAN GEJALA
ü  Gejala biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah.
ü  Beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, yaitu sering berkemih dan nyeri ketika berkemih.
ü  Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat.Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal.
ü  Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilang-timbul atau tidak ditemukan demam sama sekali. 
ü  Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil).  Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (gagal ginjal)









5.      PENATALAKSANAAN
1.      Penatalaksanaan medis menurut Barbara K. Timby dan Nancy E.Smith tahun 2007:
·         Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimikrobial seperti trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra), gentamycin dengan atau tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro) selama 14 hari.
·         Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan rasa nyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan obat farmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic seperti oxybutinin (Ditropan) dan propantheline (Pro-Banthine)
·         Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakan ginjal secara progresif.













BAB IV
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A.    PENGKAJIAN

Dalam melakukan pengkajian pada klien pielonefritis menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :
1.    Data biologis meliputi            :
·         Identitas Klien
- nama                               :
- usia / tanggal lahir           :
- jenis kelamin                    :
- suku bangsa                    :
- status pernikahan            :
- agama                             :
- pekerjaan                        :
- diagnosa medik              :
- tanggal masuk                :
- tanggal pengkajian         :
- no. RM                           :
·          Identitas penanggung
- nama                               :
- usia                                 :
- jenis kelamin                   :
- alamat                             :
- pekerjaan                         :
- hubungan dengan klien  :

2.      Riwayat kesehatan                  :
·         Keluhan utama
 Keluhan yang paling dirasakan oleh klien saat dikaji.
·         Riwayat kesehatan sekang
Penjelasan dari keluhan utama, diuraikan dalam konsep PQRST
·          Riwayat kesehatan dahulu
 Mengidentifikasi riwayat kesehatan yang memiliki hubungan dengan atau memperberat keadaan penyakit yang sedang diderita saat ini.
·         Riwayat kesehatan keluarga
 Mengidentifikasi apakah di keluarga ada riwayat penyakit menular atau turunan atau keduanya.
- Bila ditemukan riwayat penyakit menular, dibuat struktur keluarga
  dimana diidentifikasi individu-individu yang tinggal serumah.
  Tidak dalam bentuk genogram.
- Bila ditemukan riwayat penyakit turunan, dibuat genogram dalam
   minimal tiga generasi.

3.       Pengkajian fisik :
·         Umum
·         Tanda-tanda vital
·          Sistem Perkemihan,khusus pada sistem perkemihan seperti di lakukan tindakan seperti berikut:  -Palpasi kandung kemih
-Infeksi darah meatus -Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernian urine   - Pengkajian pada costovertebralis
·          Sistem Penglihatan
·         Sistem Pendengaran
·         Sistem Pernafasan
·         Sistem Kardiovaskuler
·         Sistem Endokrin
·         Sistem Genetalia
·         Sistem Muskuluskeletal
·         Sistem Integumen
·         Sistem Syaraf

4.      Pola Aktifitas Sehari-hari:
·         Nutrisi
1. Kaji jumlah,cara ,jenis cairan yang biasa diminum pasien dan perbedaan frekuensi minum klien sebelum masuk rumah sakit dan saat di rawar di rumah sakit.
2.  Kaji jumlah,cara ,jenis makanan yang biasa dimakan pasien dan perbedaan frekuensi makan klien sebelum masuk rumah sakit dan saat di rawar di rumah sakit.
·          Eliminasi
1. Kaji frekuensi, urgensi, dan jumlah urine output.
2. Kaji perubahan warna urin.
3. Kaji adanya darah dalam urin.
4. Disuria; kapan keluhan ini terjadi : pada saat urinasi, pada awal
    urinasi, atau akhir urinasi.
5. Hesitancy; mengedan nyeri selama atau sesudah urinasi.
6. Konstipasi dapat menyumbat sebagian urethra, menyebabkan
    tidak adekuatnya pengosongan kandung kemih.
·         Istirahat
·          Personal Higiene

5.      Data Psikologis, Sosial dan Spiritual  :
·         Data Psikologis
Dalam data psikologis terdiri dari status emosi, kecemasan, pola koping, gaya komunikasi dan konsep diri (gambaran diri, harga diri, dll)
·         Data Sosial
dalam data sosial Berisi hubungan dan pola interaksi klien dengan keluarga dan masyarakat.
·         Data Spiritual
Mengidentifikasi tentang keyakinan hidup, optimisme terhadap kesembuhan penyakit, gangguan dalam melaksanakan ibadah.





B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Perubahan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d hipertermi,
         perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan
2.     Nyeri akut  b/d proses peradangan / infeksi
3.     Hipertermia b/d demam, peradangan / infeksi
4.     Ansietas b/d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan
         tujuan pengobatan
5.     Gangguan pola tidur b/d hipertermi, nyeri
6.     Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum
7.     Resiko kekurangan volume cairan b/d intake tidak adekuat

C.    INTERVENSI / IMPLEMENTASI

Dx 1 : Perubahan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipertermi, perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nafsu makan bertambah.
Kriteria Hasil : menunjukkan status gizi : asupan makanan, cairan dan zat gizi.
Intervensi :
No
Intervensi
Rasionalisasi

1







2










3



4






5





Pantau  / catat permasukan diet







Tawarkan perawatan mulut sering/cuci dengan  larutan (25%) cairan asam asetat. Berikan permen karet, permen keras, penyegar mulut diantara makan





Berikan makanan sedikit tapi sering


Kolaborasi :
Konsul dengan ahli gizi/tim pendukung nutrisi




Batasi kalium, natrium dan pemasukan fosat sesuai indikasi





Membantu dan mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum, gajala uremik (contoh : mual, anoreksia, gangguan rasa) dan pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan.
Mambran mukosa menjadi kering dan pecah. Perawatan mulut menyejukkan, meminyaki dan membantu menyegarkan rasa mulut yang sering tidak nyaman pada uremia dan membatasi pemasukan oral. Pencucian dengan asam asetat membantu menetralkan amonea yang dibentuk oleh perubahan urea.
Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/menurunnya paristaltik

Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan,dan mengidentifikasi rute paling efektif dan produknya, contoh tambahan oral, makanan selang hiperalimentasi
Pembatasan elektrolit ini dibutuhkan untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut, khususnya bila dialisis tidak menjadi bagian pengobatan, dan atau selama fase penyembuhan.

Dx. 2 : Nyeri akut b.d proses peradangan, infeksi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nyaman dan nyerinya berkurang.
Kriteria Hasil : Tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih, kandung kemih tidak tegang, tenang,   tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah, tidak ada posisi tubuh, tidak ada kegelisahan, tidak ada kehilangan nafsu makan.

Intervensi :
No
Intervensi
Rasionalisasi

1



2



3


4





5



6


7









8



9

Pantau intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri

Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran.

Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi

Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang

Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan punggung, lingkungan istirahat

Berikan perawatan parineal


Kolaborasi :
Konsul dokter bila : sebelumnya kuning gading urine kuning, jingga gelap, berkabut atau keruh. Pla berkemih berubah, sering berkemih dengan jumlah sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih. Nyeri menetap atau bertambah sakit

Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya

Berikan antibiotic. Buat berbagi variasi sediaan minum, termasuk air segar. Pemberian air sampai 2400 ml/hari

Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi


Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot – otot

Untuk membantu klien dalam berkemih

Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang di harapkan



Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot


Untuk mencegah kontaminasi uretra


Temuan – temuan ini dapat memberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas





Analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri

Akibat dari haluran urin memudahkan berkemih sering dan membantu membilas saluran berkemih

Dx. 3 : Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam demam pasien berkurang
Kriteria Hasil :hilangnya rasa mual, suhu tubuh kembali normal, nafas normal dan suhu kulit lembab
Intervensi :
No
Intervensi
Rasionalisasi
1



2




3







4





5
Pantau suhu pasien (drajat dan pola) ; perhatikan menggigil/diaforesis

Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi


Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan alkohol






Berikan selimut pendingin





Kolaborasi :
Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen (tylenol)
Suhu 38,90 – 41,10 C menunjukkan proses penyakit infeksius akut

Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.

Dapat membantu mengurangi demam. Catatan : penggunaan air es/alkohol mungkin menyebabakan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual. Selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit. 

Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,50-400 C pada waktu terjadi kerusakan/ gangguan otak.
Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotelamus. Meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme. Dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi


Dx. 4 : Ansietas b.d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan tujuan pengobatan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam cemas pasien Hilang dan tidak memperlihatkan tanda-tanda gelisah
Kriteria Hasil : tenang, gelisa berkurang, ketakutan berkurang, dapat beristirahat, frekuensi nafas 12-24/menit
Intervensi :
No
Intervensi
Rasionalisasi
1




2


3



4
Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya



Pantau tingkat kecemasan


Beri dorongan spiritual



Beri penjelasan tentang penyakitnya
Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan

Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien

Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada tuhan YME

Agar klien mengerti sepenuhnya dengan penyakit yang di alaminya.


Dx. 5 : Gangguan pola tidur b.d hipertermi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa tidur dengan nyenyak.
Kriteria Hasil : jumlah jam tidur tidak terganggu, perasaan segar setelah tidur atau istirahat, terjaga denganwaktu yang sesuai
Intervensi :
No
Intervensi
Rasionalisasi
1

2



3



4


5
Instruksikan tindakan relaksasi

Hindari mengganggu bila mungkin, misal : membangun untuk obat atau terapi

Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi

Dorong posisi nyaman, bantu dalam megubah posisi

Kolaborasi :
Berikan sedatif, hipnotik, sesuai indikasi
Membantu menginduksi tidur

Tidur tanpa gangguan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun

Mengkaji perlunya mengidentifikasi intervensi yang tepat.

Perubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat
Mungkin di berikan untuk membantu pasien tidur/istirahat selama periode dari rumah ke lingkungan baru. Catatan : hindari penggunaan kebiasaan, karena ini menurunkan waktu tidur.

Dx. 6 : Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien toleran aktifitas.
Kriteria Hasil : mengidentifikasi aktifitas dan atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas.
Intervensi :
No
Intervensi
Rasionalisasi
1




2
Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan.  Berikan kemajuan peningkatan aktifitas selama fase penyembuhan.

Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas
Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen


Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pemilihan intervensi.

Dx. 7 : Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat
Kriteria hasil :tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih, memiliki keseimbangan asupan Dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam.
Intervensi :
No
Intervensi
Rasionalisasi
1



2



3


4



5













6
Ukur dan catat urine setiap kali berkemih


Pastikan kontinuitas kateter pirau/ akses


Tempatkan pasien pada posisi telentang/tredelenburg sesui kebutuhan
Pantau mambran mukosa kering, torgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus

Kolaborasi :
Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi Hb/Ht elektrolit serum waktu pembekuan, contoh ACT, PT/PTT, dan Jumlah trombosit








Berikan cariran IV (contoh, garam faal)/ volume ekspender (contoh albumin)selama dialisa sesuai idikasi

Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/output

Terputusnya pirau/ akses terbuka akan memungkinkan eksanguinasi

Memaksimalkan aliran balik vena bila terjadi hipotensi

Hipovolemia/cairian ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi

Menurun karena anemia, hemodilusi atau kehilangan darah aktual.
Ketidak seimbangan dapat memerlukan perubahan dalam cairan dialisa atau tambahan pengganti untuk mencapai keseimbangan penggunaan heparin untuk mencegah pembekuan pada aliran darah dan hemofilter mengubah koagulasi dan potensial darah aktif.

airan garam faal/dekstrosa, elektrolit, dan NaHCO3 mungkin diinfuskan dalam sisi vena hemofelter Cav bila kecepatan ultrafiltrasi tinggi digunakan untuk membuang cairan ekstraseluler dan cairan toksik.


D.    EVALUASI
a.       Memperlihatkan berkurangnya rasa nyeri dan ketidaknyamanan.
Ø  Melaporkan berkurangnya nyeri, urgency, disuria, atau hesitancy pada saat berkemih.
Ø   Minum analgetik dan agens antimikrobial sesuai resep.
Ø  Minum 8 – 10 gelas air setiap hari.
Ø   Berkemih setia 2 – 3 jam.
Ø   Urine yang keluar jernih dan tidak berbau.
b.      Pengetahuan mengenai tindakan pencegahan dan modalitas
         penanganan yang diresepkan meningkat.
c.       Bebas komplikasi.
Ø  Melaporkan tidak adanya gejala infeksi atau gagal ginjal (mual, muntah, kelemahan, pruritus).
Ø   Kadar BUN dan kreatinin serum normal, kultur darah dan urine negatif.
Ø   Memperlihatkan tanda-tanda vital dan suhu yang normal, tidak ada tanda sepsis.
Ø    Mempertahankan haluaran urine yang adekuat (> 30 ml/jam).
DAFTAR PUSTAKA

http://acenkfik.blogspot.com/2011/04/asuhan-keperawatan-pielonefritis.html. Diakses pada tanggal 21 Februari 2012
http://glizzer.wordpress.com/2009/05/07/asuhan-keperawatan-klien-dengan/. Diakses pada tanggal 21 februari 2012
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keprawatan. Edisi 7. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar